Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Official Site of Ifa-Thobib (the Writers), Akna & Ahya

Blog EntryJun 2, '10 3:01 PM
for everyone

Rasanya nggak menyangka sewaktu saya menemukan dua strip pada test pack di pagi hari itu, September 2007, sepuluh hari ramadhan. Saya? Hamil?
Perlu diketahui, saya sudah lupa akan keinginan saya memberikan adik untuk Akna, anak laki-laki saya satu-satunya. Dia sudah berusia hampir enam tahun, sudah kelas satu SD. Artinya, saya sudah melupakan keinginan untuk hamil lagi karena sudah terlalu jauh jaraknya dengan Akna.
Sebelumnya, dua tahun pertama setelah kelahiran Akna, saya dan suami sempat sangat ingin memberi adik untuknya. Kami tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun. Namun kok nggak hamil-hamil juga?
Dari sangat ingin, lama-lama saya seperti lupa dengan keinginan itu. Bahkan kalau boleh dibilang, saya menolak untuk hamil kemudian. Kenapa?
Saya sudah terlanjur merasa nyaman dengan kondisi saya sebagai ibu yang bekerja di rumah (sebagai ibu rumah tangga dan penulis penuh waktu) dengan sistem tight deadline (dikejar projek, maksudnya) dengan satu anak yang lincahnya ngalahin anak kucing. Nggak bisa diam. Kebayang gimana pusingnya saya jika saya harus nambah anak lagi!
Sementara suami saya beralasan bahwa perlu ada teman untuk Akna. Juga agar kelak kami sudah tua, nggak terlalu sepi karena anaknya nggak hanya satu. O ya, saya dan suami memang sama-sama berasal dari keluarga besar. Biasa rame.
Anak kami, Akna, juga sering jadi lawan berantem saya soal ini. Dia pingin punya adik dan keinginannya ini bak dian yang tak kunjung padam:). Diulang-ulang terus ngomongnya, "Mau baby...", bikin saya bete. Belakangan saya baru tahu kalau dia selalu menjadikan keinginannya ini sebagai headline pray kepada Allah setiap dia berdoa mau tidur.
Maka pagi itu, saya merasakan suatu sensasi aneh. Sebenarnya saya sudah setengah yakin saat saya telat dua minggu tidak haid. Wah, jangan-jangan hamil nih, pikir saya. Namun saat menemukan si-dua-strip di test pack, saya termenung sesaat.
Apakah betul saya siap hamil lagi? Konsepnya apa nih? (Dasar penulis, hamil aja harus ada konsepnya). Maksudnya, saya nggak ingin setengah-setengah. Setengah menerima dan setengah menolak.
Bismillah. Saya tarik nafas dalam-dalam. Ya, saya bukan manusia yang setengah-setengah. Saya harus siap hamil lagi meski dengan kondisi yang mungkin lebih buruk dari kehamilan pertama.
Perlahan saya bangunkan suami. "Ayah, ibu positif..."
Suami saya langsung bangun dan memeluk saya bahagia. "Alhamdulillaaah... beneran?"
Saat itu saya segera tahu, saya telah mengambil pilihan yang tepat. So, selamat datang ke dalam kehidupan ibu, calon bayiku...

Melahirkan tanpa Stress

Dokter obsgin saya menyarankan kelahiran dengan operasi karena saya punya banyak masalah. Minus mata saya yang tinggi mengakibatkan saya tidak boleh mengejan. Juga ambeien saya yang sudah parah dan mengerikan. Belum lagi ada mioma di rahim saya yang harus diangkat bareng ngangkat si bayi. Dan terakhir DMG saya yang aneh ini. Khawatir jika bayi saya terlalu besar akan sulit keluar.
Ditetapkanlah tanggal operasi antara 15-18 Mei 2008. Hiyaa... deg-degan juga. Namun mengingat inilah jihad seorang ibu, maka saya harusnya nggak boleh gentar. Tapi...
Dua minggu menjelang lahiran, habis ngaji, tiba-tiba saya merasakan mules luar biasa. Keringat dingin mengucur deras. Perut saya keram. Saya jadi ngeri. Jangan-jangan ini kontraksi.
Kehamilan pertama dulu saya nggak sempat kontraksi. Wajar kan saya dan suami nggak ngerti ini kontraksi atau bukan?
Mengingat teori yang saya baca sebelumnya, dan atas anjuran sahabat saya, Jeng Mita, saya berbaring miring. Hampir semalaman saya menahan sakit. Alhamdulillah besoknya mulesnya hilang.
Kontrol terakhir ke dokter, saya disuntik pematangan paru untuk si bayi. Bayi saya sudah cukup besar, namun dikhawatirkan paru-parunya belum cukup matang. Mengingat riwayat kontraksi duluan itu, diputuskan operasi tanggal 15 Mei. Ini berarti maju sekitar 15 hari dari perhitungan awal.
D-day tiba juga.
Siang hari tanggal 14 Mei, saya menyelesaikan semua project tulisan. Saya berencana cuti tiga hari saja, untuk kemudian kembali menulis lagi. Maklum saya agak workaholic. Lagipula, waktu melahirkan si sulung dulu, saya juga cepat sekali pulihnya.
Tanggal 14 sore, saya masuk RS Hospital Cinere (namanya aneh!). Masih bisa turun naik ke lab dan diomelin orang lab karena jalan-jalan sendiri. Ternyata ini kesalahan si suster di bagian obsgin. Nyebelin! Untung susternya baik dan sudah kenal saya, jadi saya nggak keburu bete. Masalahnya saya mondar-mandir dengan hak sepatu lumayan tinggi dan perut yang sudah tinggal tunggu jam buat melahirkan!
Nah pada saat pemeriksaan awal (belum masuk kamar perawatan), saya kembali didera mules yang amat sangat. Suami saya siaga di sisi saya, menggenggam tangan saya, menyalurkan energinya kepada saya yang terus menerus kesakitan. Segala doa dan kalimat thayyibah berusaha tak putus saya lantunkan dengan lirih, berharap Allah memberi yang terbaik.
Suster yang memeriksa kemudian menjelaskan bahwa memang saya sudah kontraksi, sudah ada pembukaan. Haduh, pantesan mulesnya nggak keruan begini! Subhanallah, begini ya jihad ibu. Waktu lahiran pertama saja, saya sudah pingsan-pingsan, nah yang ini lain lagi pengalamannya.
Saya kemudian disuntik anti mules dan dibawa ke ruang perawatan. Alhamdulillah malam itu saya tidak merasakan mules lagi. Tinggal berdoa dan mohon doa untuk menghadapi jihad akbar esok pagi. Bismillah...

Saya punya pengalaman buruk saat melahirkan si sulung. Waktu itu Hb saya drop dan migrain saya kumat tepat saat saya disuntik bius spinal. Tiba-tiba saya seperti memasuki igloo alias rumah orang eskimo. Saya mengalami hypothermia alias penurunan suhu tubuh hingga menggigil. Karena itu dokter memutuskan menambah dosis suntikan sehingga... saya pingsan dengan sukses!
Alhasil sejak operasi dimulai pukul 7.30 pagi, saya pingsan dan baru siuman pas azan maghrib!
Saat hamil kedua ini, saya sudah bertekad nggak mau pingsan lagi. Maka sejak awal kehamilan, saya terus berdoa dan mencari tahu bagaimana caranya supaya nggak pingsan. Sempat Hb saya drop di bulan ketujuh, dan saya jadi panik. Jangan-jangan pingsan lagi nih urusannya, pikir saya.
Sebelum operasi pukul 7.30, saya sempatkan shalat dhuha dulu (waktu kelahiran si sulung juga). Saya berdoa minta diberikan kekuatan fisik, mental dan spiritual. Setelah itu memang batin terasa lebih tenang.
Masuk ruang operasi, saya diajak ngobrol oleh para suster dan dokter. Bahkan suntik bius spinal dan detik-detik kelahiranpun kami masih mengobrol. Terakhir saya merasa sedikit kesemutan, yang makin lama makin berasa. Lalu saya mulai mengantuk. Saya bilang, "Dokter, saya mengantuk". Nggak lama saya seperti mati rasa.
Tapi saya masih bisa mendengar dokter-dokter dan para suster ngobrol samar-samar. Bahkan saya dalam keadaan sadar penuh saat bayi saya yang masih merah didekatkan ke dada saya dan diciumkan ke pipi saya. Alhamdulillah, bayi saya telah lahir dengan selamat. Laki-laki dengan BB/TB 3,8/50.
Keharuan menggumpal di hati. Bayi saya sudah lahir. Dia begitu kecil dan lucu. Saya ingin sekali memeluknya. Saya tadi sempat mendengar tangisan pertamanya dan tangisan selanjutnya. Rasa cinta seketika meluap dari dalam diri saya.

Kisah Suami (Berusaha) Siaga dan Istri Nggak Enakeun:)

Kalau ditanya peran suami saat istrinya mau melahirkan, Alhamdulillah, suami saya termasuk suami siaga 24 jam. Sejak kelahiran anak sulung kami, peran suami memang top deh.
Pada kelahiran kedua ini juga, suami saya boleh dikata hampir tidak beranjak dari sisi saya kecuali untuk mencari makan ke kantin bawah (soalnya kantin/cafetaria RS harganya muahaaal bow), setor cucian kotor ke rumah dan antar jemput anak sulung kami.
Pada momen menjelang kelahiranpun, dia sudah cuti dan stand by saat saya sudah masuk RS. Yang kocak menjelang operasi tuh. Suami saya ternyata masih seperti yang dulu. Waktu kelahiran anak sulung kami, dia nggak mau masuk ke ruang operasi dan nggak mau mendokumentasikan saat-saat operasi. Katanya nggak tega. Kasihan melihat saya 'diodel-odel' dokter dan berdarah-darah gitu.
Sempat 'tergoda' karena adik ipar (suami adik saya) berhasil membuat dokumentasi detik-detik kelahiran putra ketiga mereka. Memang sih yang mengambil gambarnya salah satu suster. Tapi kan dia melihat juga waktu film itu diputar kembali.
Malam menjelang operasi, suami bilang, bahkan untuk menonton filmnya saja dia nggak tega. Jadi? Nggak ada dokumentasi detik-detik operasi dong? Sedikit kecewa terbersit di hati saya. Padahal tadinya sudah sempat berharap. OK lah bukan suami yang mengambil gambarnya, yang penting ada dokumentasinya! Tapi ya sudahlah. Bukan saya banget gitu loh memaksa-maksa suami begitu.
Detik-detik menjelang operasi, saya sudah masuk ruang operasi. Dokter ketua tim menawarkan suami untuk ikut masuk. Saya kembali berharap.
Eh, dia keukeuh tuh nggak mau masuk. Dia hanya mencium kening saya dan menyemangati saya. Mungkin dia yakin banget bahwa saya adalah istri-berani-dan-kuat-sert
a-mandiri. Padahal saya deg-degan gitu. Kalau dia ikut masuk kan minimal... saya nggak seperti mau disembelih begini. Tapi ya sudahlah. Memangnya kalau saya sampai betulan kenapa-kenapa juga kan sudah ada tim dokter yang menangani. Ya sudahlah. Bismillah. Nggak enak juga kalau betul suami saya malah ketakutan. Kasihan dianya.
Satu hal yang bikin saya sempat sangat sedih, adalah tatapan sulung kami, Akna. Matanya berkaca-kaca seperti mau melepas ibunya kemanaa gitu. Namun dari situ saya justru mendapat tambahan semangat. Saya harus kuat. Akna sedang bertaruh seluruh harapan bagi saya dan calon adiknya.
Selesai operasi, saat saya selesai dari ruang recovery dan akan kembali dibawa ke kamar, wajah yang pertama saya lihat adalah suami, lalu Akna, papa dan mama saya, serta om saya. Teristimewa suami, saya menemukan matanya berkaca-kaca. Dia mencium saya dan berbisik, "Alhamdulillah. Terima kasih ya, sudah melahirkan anak kita. Dia sehat... sempurna".
Ucapan terima kasih itu bagi saya lebih dari apapun. Saya memang sederhana dalam memaknai sesuatu. Oleh karenanya, saya memang hampir tak pernah meminta apapun dari suami. Hanya ucapan terima kasihnya (yang tak pernah lupa dia ucapkan setiap saya berbuat baik kepadanya) yang menjelma sebuah keindahan lebih dari hadiah benda apapun.
Lalu kembali saya menemukan mata bening Akna. Pangeran kecil saya masih berkaca-kaca. Mungkin dia sedih melihat ibunya yang biasanya lincah dan bawel kini terbaring lemah setelah operasi. Belakangan, kata suami, Akna sedih dan bete menunggu operasi. Dia kangen saya dan cemas sekali. Hehehe... padahal biasanya saya dan Akna sering sekali berantem:).
Setelah lahiran (masih di RS), suami juga OK banget perannya. Dia yang mengajak anak-anak (Akna dan sepupu-sepupunya) main. Dia yang mengantar Akna les renang (biasanya saya). Dia berusaha mengambil alih peran dan tugas saya. Bahkan hingga saya dan si bayi pulang juga. Banyak hal yang masih belum bisa saya kerjakan, diambil alih suami. Misalnya memasak, beres-beres rumah, menyiapkan segala keperluan Akna. Saya mah, bangun tidur saja masih nyeri (masa penyusutan kembali rahim bagi pasien operasi cesar memang lebih nyeri ketimbang pasien kelahiran normal). Jadi saya hanya bertugas menyusui si bayi dan memandikannya.
Saya jadi nggak tega. Dia repot sementara saya tiduran dan duduk-duduk doang. Perlahan saya berlatih kembali mengerjakan tugas-tugas saya. Alhamdulillah tiga hari setelah pulang, saya sudah bisa mulai 'bertugas' kembali, meski masih merasa nyeri juga. Rasanya nggak sabar dengan keleletan saya sendiri. Pingin grabak-grubuk lagi:). Nggak enakeun gitu, kayak orang sakit nggak bisa apa-apa, sementara suami repot sendiri:).
Btw, bisa nggak sih nanti-nanti kalau melahirkan lagi, saya nggak merepotkan siapapun?

Link: DENAIHATI





12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
srisariningdiyah wrote on Jun 2, '10
jadi strip dua lagi nih mbak?
cindil wrote on Jun 2, '10
Berita terakhir???? strip dua lagi gak?
mmamir38 wrote on Jun 2, '10
Selamat ya!
BTWm adik Akna laki atawa perempuan?
Siapa namanya?
myshant wrote on Jun 2, '10
aih ...sekali baca gak berhenti sampai akhir ...cepet banget cuti dari kerjaan rumah cuma 3hr, pdhl perut abis diubek2 :)
dedew80 wrote on Jun 2, '10
fiuhh..deg2an bacanya mba ifa..jadi nyeri juga..
siasetia wrote on Jun 2, '10
sang adik minta adik lagi teh?
anazkia wrote on Jun 2, '10
Assalamu'alaikum..

Ini Mbak Ifa Afiantikah...???

Makasih yah, Mbak atas partisipasinya. Linknya saya kirim ke juri, Mbak :)
andhiena wrote on Jun 3, '10
mbak Ifa,
lucu bgt tulisannya..
Sy sempat ngekèh dibagian 'anak kucing' &pingsan dg sukses..hehe
slmt y mbak..
qillaandnay wrote on Jun 3, '10
Assalamualaikum, mbak Ifa,.... msh inget erna ? yg di cilegon... brarti dah 2 jagoannya ya... aku juga lagi strip 2 nih... hehe.. doain cowok ya.. ben tambah lengkap...
pandakeadilan wrote on Jun 4, '10
:)
minehaway wrote on Jun 4, '10
Wah Bunda Ifa ikutan juga...salut dah. Tiap lomba disempatkan ikut meskipun sebenarnya dah jadi penulis top. Siap2 kalah hehe...
qqcakep wrote on Jun 8, '10
Sebegitu mengerikannya ya orang melahirkan. Hikz...
Add a Comment